Jurnalmetropol, Jakarta – Di balik catatan sejarah militer Indonesia, nama Jenderal TNI (Purn) M. Jusuf selalu dikenang sebagai lambang kejujuran dan kesederhanaan. Saking besarnya keteladanan sang jenderal, Presiden Prabowo Subianto secara terang-terangan mengidolakan sosok asal tanah Bugis ini sebagai mentor yang membentuk karakter militernya.
Lahir di Kajuara pada 23 Juni 1928, M. Jusuf sebenarnya merupakan keturunan bangsawan murni dari silsilah Raja Bone ke-24, Sultan Isma’il Muhtajuddin, yang juga tersambung hingga Sultan Hasanuddin dan Sunan Gunung Jati.
Namun, demi prinsip kesetaraan di hadapan Republik, pada tahun 1957 ia mengambil keputusan radikal: menanggalkan gelar “Andi” di depan namanya dan tidak pernah menggunakannya lagi.
Karier militernya mentereng, mulai dari ikut mempertahankan kemerdekaan pada 1945, memadamkan pemberontakan RMS, hingga menjadi saksi kunci peristiwa Supersemar 1966. Di ranah sipil, ia juga dipercaya menjabat sebagai Menteri Perindustrian (1964–1974) menembus dua era presiden.
Puncak pengabdiannya terjadi saat ditunjuk menjadi Panglima ABRI merangkap Menhankam (1978–1983). Di era inilah ia dikenal sebagai “Panglima Rakyat” karena gemar blusukan ke barak-barak terpencil untuk memastikan kesejahteraan prajuritnya. Lewat program ABRI Masuk Desa (AMD), ia berhasil mendekatkan tentara dengan rakyat kecil.
Namun, popularitasnya yang meroket justru memicu kecurigaan politik di lingkar kekuasaan Orde Baru. Puncaknya pada tahun 1982, saat loyalitasnya dipertanyakan di hadapan Presiden Soeharto, Jenderal Jusuf yang terkenal lurus itu spontan menggebrak meja.
Ia menegaskan tidak pernah haus kekuasaan dan hanya ingin mengabdi pada negara. Kecewa karena dicurigai, ia memilih menarik diri dari kabinet hingga diberhentikan setahun kemudian.
Selepas menjabat Ketua BPK (1983–1993), M. Jusuf memilih pensiun dalam kesederhanaan dengan mengurus masjid dan rumah sakit sosial.
Bahkan, ia menolak menerbitkan memoar pribadinya demi menjaga stabilitas negara, memegang teguh prinsip: “Tak semua kebenaran harus diketahui publik.”
Sang jenderal teladan wafat pada 8 September 2004 di usia 76 tahun. Menolak dimakamkan di TMP Kalibata Jakarta, ia memilih beristirahat selamanya di Pemakaman Umum Panaikang, Makassar—dekat dengan rakyat yang selalu ia bela.
Sumber: Wikipedia













