Jurnalmetropol.com – Sejarah pers Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran besar seorang perempuan asal Minangkabau, Roehana Koeddoes.
Lahir di Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam, pada 20 Desember 1884, Roehana tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia yang berani menyuarakan emansipasi melalui tulisan di era kolonial.
Mendobrak Keterbatasan dengan Pena
Di masa hidupnya, akses pendidikan bagi perempuan sangat terbatas. Namun, Roehana yang memiliki semangat belajar tinggi tidak menyerah. Meski tidak mengecap pendidikan formal, ia belajar membaca, menulis, dan bahasa Belanda dari ayahnya, Mohamad Rasjad Maharadja Soetan.
Ketajaman pemikirannya mulai dituangkan dalam bentuk tulisan. Puncaknya pada 10 Juli 1912, Roehana mendirikan surat kabar Soenting Melajoe di Padang. Media ini menjadi sangat fenomenal karena merupakan surat kabar pertama yang seluruh redaksinya adalah perempuan dan diperuntukkan bagi pembaca perempuan.
Soenting Melajoe: Suara Perempuan Hindia Belanda
Melalui Soenting Melajoe, Roehana tidak hanya menyajikan berita, tetapi juga memberikan ruang bagi perempuan untuk berdiskusi mengenai pendidikan, kesehatan, agama, hingga politik. Ia sering menulis kritik tajam mengenai ketidakadilan yang diterima kaum perempuan saat itu.
“Jika perempuan berilmu, maka bangsa akan maju,” menjadi salah satu prinsip yang selalu ia gaungkan. Baginya, jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan alat perjuangan untuk mencerdaskan bangsa.
Pendidikan dan Kerajinan Amai Setia
Selain di bidang pers, Roehana juga mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang pada tahun 1911. Sekolah ini mengajarkan berbagai keterampilan seperti menjahit, membordir, dan mengelola keuangan agar perempuan Minang memiliki kemandirian ekonomi.
KAS menjadi bukti nyata bahwa Roehana ingin perempuan tidak hanya pintar menulis, tetapi juga berdaya secara finansial. Hasil kerajinan dari sekolah ini bahkan diakui kualitasnya hingga ke luar negeri.
Warisan dan Gelar Pahlawan Nasional
Roehana Koeddoes merupakan saudara tiri dari Sutan Sjahrir dan sepupu dari KH Agus Salim. Namun, ia membangun jalannya sendiri sebagai tokoh emansipasi yang setara pengaruhnya dengan RA Kartini di Jawa.
Atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam dunia pendidikan dan jurnalisme, Pemerintah Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Roehana Koeddoes pada 8 November 2019.
Sosoknya kini terus dikenang sebagai inspirasi bagi jurnalis perempuan masa kini untuk terus berani menyuarakan kebenaran.
Hingga wafatnya pada 17 Agustus 1972, Roehana tetap memegang teguh keyakinannya bahwa pendidikan dan informasi adalah kunci utama bagi kebangkitan perempuan Indonesia. (red)







