Jurnalmetropol.com, Jakarta – Hari ini, Sabtu 7 Februari, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra genap 70 tahun, lahir di Manggar, Belitung Timur, Manggar, Bangka Belitung, 5 Februari 1956. Prof. Yusril dikenal sebagai salah satu pakar hukum, dan hampir di setiap era presiden, setelah reformasi, dipercaya sebagai salah satu Menteri, yang kini sebagai Menko Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan di kabinet Merah Putih, Presiden Prabowo.
Ungkapan rasa syukur atas anugerah umur itu dirayakan dengan mengundang keluarga, guru, sahabat, kolega, murid, staf, dan generasi muda pencinta buku untuk menghadiri tasyakurannya.
Kegiatan tersebut bertema: “Setengah Abad Dedeikasi untuk Bangsa: Peluncuran 8 Buku Rekam Jejak 70 Tahun Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra,” yang dilaksanakan di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Sabtu (7/2/2026).
Ke delapan judul buku yang diluncurkan hari ini: Pertama, “The Untold Stories of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra dan Testimoni Kolega,” editor, M. Saleh Mude dkk. Buku ini cukup tebal, 926 halaman, diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Hafid Abbas dan Fachry Ali, 926 halaman.
Buku kedua, “The Autobiography of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Testimoni Kolega, dan Hadiah Puisi,” editor M. Saleh Mude, 492 halaman, dua bahasa: Indonesia dan Arab. Bahasa Arabnya dikerjakan oleh Thohir Ashari dan Zainal Abidin H. Cangkelo.
Buku ketiga, “Islam, Democracy, and Human Rights in Contemporary Indonesia,” editor Prof. Yusril Ihza Mahendra dan Prof. Hafid Abbas, 192 halaman.
Buku keempat, “Pemikiran Politik Yusril Ihza Mahendra: Islam, Negara, dan Demokrasi, ditulis oleh Dr. Herdito Sandi Pratama, pengajar di departemen filsafat, fakultas ilmu pengetahuan budaya, Universitas Indonesia, dan staf khusus di kantor Pak Yusril, Menko Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, 322 halaman.
Buku kelima, “Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra: Keadilan yang Memulihkan,” ditulis oleh Ahmadie Thaha, wartawan senior, dalam bentuk 64 judul esai, 460 halaman.
Buku keenam, “The Landmark Cases of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra,” ditulis oleh Prof. Dr. Fitra Arsil dan Dr. Qurrata Ayuni, 540 halaman.
Buku ketujuh, “Lebih Dekat dengan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra: Pandangan Tokoh dan Sahabat,” ditulis dan diedit oleh Ahmad Pratomo dkk, dibawa supervisi Randy Bagasyudha, 112 halaman, dan buku kedelapan, “Di Mana Bumi Dipijak: Novel Biografis,” ditulis oleh Andre Syahreza, 188 halaman.
Setiap buku dicetak lebih seribu untuk dibagikan secara gratis para tamu dan undangan hari ini di Balai Kartini Jakarta. Dari data kepanitiaan, terdata seribuan tamu dan undangan dalam dan luar negeri, terutama dari Malaysia, Jepang, Filipina, selain dari para duta besar negara-negara sahabat.
Acara peluncuran buku-buku Prof. Yusril ini diapresiasi oleh Ahmadie Thaha, dan mengatakan acara hari ini di Balai Kartini, adalah peristiwa yang ditunggu-tunggu dan dipersiapkan dengan kesungguhan yang jarang terlihat.
Di balik peluncuran delapan buku — yang secara keseluruhan memuat ribuan halaman — ada kerja panjang sebuah tim yang sabar, tekun, dan nyaris bekerja dalam diam.
Mungkin tidak banyak ulang tahun yang dirayakan dengan cara seperti ini: bukan dengan pesta, melainkan dengan pemikiran; bukan dengan hingar-bingar, melainkan dengan warisan intelektual.
Menurut Ahmadie Thaha, ini bukan sekadar perayaan usia, melainkan penanda setengah abad dedikasi seorang anak bangsa yang jejaknya ditulis dalam buku, nalar, dan pengabdian. Selamat Ulang Tahun Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra.
Sebagai penutup, mengutip press release Prof. Dr. Hafid Abbas, yang melaporkan di hadapan para tamu, “Pengantar Penerbitan 8 Buku Prof. Yusril,” yang menulis bahwa;
Semoga, ke delapan buku ini sebagai warisan intelektual Prof. Yusril, tidak hanya akan dikenang, tetapi juga dimanfaatkan secara aktif oleh dunia akademik, masyarakat luas, dan generasi muda. Karya-karya ini diharapkan menjadi sumber inspirasi, refleksi, dan pengembangan ilmu pengetahuan, sekaligus mendorong kajian historis, politik, hukum dan sosial yang lebih mendalam.
Buku-buku ini juga memperkuat koleksi Prof. Yusril Ihza Mahendra sebagai pusat referensi, yang akan melayani penelitian akademik, penyusunan kebijakan, dan pengembangan literasi hukum dan politik di Indonesia.
Dengan demikian, koleksi ini tidak hanya menjadi simbol intelektual, tetapi juga instrumen nyata untuk memperluas wawasan masyarakat dan memajukan ilmu pengetahuan di tingkat nasional maupun internasional.
Oleh: M.Saleh Mude, founder of Prodeleader, dan penjaga warisan intelektual tokoh-tokoh bangsa, seperti Prof. Yusril Ihza Mahendra, dapat dihubungi di: msalehmude@gmail.com













